Deskripsi Masalah:
Sudah menjadi kebiasaan, bahkan telah membudaya
di tengah-tengah masyarakat kita tentang adanya salaman antara pria dan wanita
yang nyata-nyata bukan mahromnya. Hal itu bisa terjadi di antara lingkungan
kerja, tetangga, kawan atau terjadi pula dalam suasana keluarga bila terjadi
pertemuan antar famili.
Pertanyaan :
Apakah ada pendapat ulama yang membolehkan hal
tersebut dalam deskripsi masalah?
(As’ilah dari LBM PCNU Jombang)
Jawaban
Ada yang memperbolehkan dengan syarat tidak
disertai syahwat dan aman dari fitnah serta si perempuan tidak tergolong yang
disyahwati,
الموسوعة الفقهية الكويتية – (37 / 359(
وَأَمَّا الْمُصَافَحَةُ التِيْ تَقَعُ بَيْنَ الرَّجُلِ
وَالْمَرْأَةِ مِنْ غَيْرِ الْمَحَارِمِ فَقَدْ اِخْتَلَفَ قَوْلُ الْفُقَهَاءِ فِي
حُكْمِهَا وَفَرَّقُوْا بَيْنَ مُصَافَحَةِ الْعَجَائِزِ وَمُصَافَحَةِ غَيْرِهِمْ
:فَمُصَافَحَةُ الرَّجُلِ لِلْمَرْأَةِ العَجُوْزِ التِيْ لاَ تَشْتَهِيْ وَلاَ تُشْتَهَى
، وَكَذَلِكَ مُصَافَحَةُ الْمَرْأَةِ للرَّجُلِ العَجُوْزِ الذِيْ لا لاَ تَشْتَهِيْ
وَلاَ تُشْتَهَى وَمُصَافَحَةُ الرَّجُلِ العَجُوْزِ للمَرْأَةِ العَجُوْزِ جَائِزٌ
عِنْدَ الحَنَفِيَّةِ وَالحَنَابِلَةِ مَا دَامَتْ الشَّهْوَةُ مَأْمُوْنَةً مِنْ كِلاَ
الطَّرَفَيْنِ،………….إلَى أَنْ قال…...وَأمَّا مُصَافَحَةُ الرَّجُلِ للمَرْأَةِ الأَجْنَبِيَّةِ
الشَّابَّةِ فَقَدْ ذَهَبَ الحنفيةُ والمالكيةُ والشافعيةُ والحنابلةُ في الرِّوَايَةِ
الْمُخْتَارَةِ ، وابنُ تَيْمِيَّةُ إلى تَحْرِيْمِهَا ، وقَيَّدَ الحنفيةُ التَّحْرِيْمَ
بِأَنْ تَكُوْنَ الشَّابَّةُ مُشْتَهَاةً ، وقَالَ الحنابلةُ : وَسَوَاءٌ أَكَانَتْ
مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ كَثَوْبٍ وَنَحْوِهِ أَمْ لَا .
Terjemah:
Hukum bersalaman antara laki-laki dan perempuan
yang bukan mahrom terjadi perbedaan pendapat antara Ulama’ ahli fiqih, mereka
membedakan antara bersalaman dengan orang tua dan orang muda.
Salaman laki-laki dengan wanita yang sudah tua
yang tidak mengandung syahwat dan si wanita tidak disyahwati atau sebaliknya,
hukumnya boleh menurut Ulama’ Mahdzhab Hanafi dan Mahdzhab Hanbali dengan
syarat aman dari syahwat. Adapun salaman antara pemuda dan pemudi yang bukan
mahromnya maka Ulama’ Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali sepakat
mengharamkannya, bahkan Ulama’ Hanafi menguatkan keharaman tersebut jika pemudi
itu di syahwati. Dan Ulama’ Hambali tetap menyatakan haram baik salaman
tersebut menggunakan pembungkus tangan seperti kain atau tidak.
LBM PCNU Jombang
0 comments:
Post a Comment