Deskripsi Masalah
Zaman sekarang banyak parfum dan make-up yang
dijual di toko-toko. Sebagian besar dikonsumsi oleh kaum hawa. Dan ada dari
kaum laki-laki yang mengkonsumsinya. Nah, bagaimana fikih Islam menyikapi kaum
laki-laki yang memakai bedak atau make-up? Apakah membolehkah? Atau tidak
membolehkan?
Apakah termasuk tasyabbuh (meniru) dengan
perempuan yang diharamkan?
Jawaban :
Islam sebagai agama universal yang peraturan
hukumnya pasti menyentuh semua lini kehidupan, pasti memiliki hukum yang jelas
mengenai persoalan ini. Di dalam Islam memang seseorang, baik laki-laki maupun
perempuan dianjurkan untuk selalu tampil prima, bersih, harum dan indah. Karenanya,
muslim disunatkan untuk selalu memakai parfum dan minyak wangi. Hanya ada perbedaan
antara laki-laki dengan perempuan.
Untuk laki-laki, parfum yang dianjurkan ialah
parfum yang aromanya semerbak tetapi warnanya tidak kentara, alias samar.
Sedangkan untuk kaum hawa, sebaliknya, aromanya tidak semerbak, tetapi warnanya
kentara. (Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari XI/560).
Satu lagi yang perlu diperhatikan, untuk
laki-laki parfumnya tidak boleh dipoleskan di wajah. Sedangkan untuk kaum hawa,
parfumnya memang dipoleskan diwajah. Di sini, laki-laki dilarang memoleskan
parfum di wajah, karena termasuk tasyabbuh dengan kaum hawa. (Fath al-Bary
Syarh Shahih al-Bukhari XI/561). Nabi saw, dalam salah satu hadits melaknat laki-laki
yang tasyabuh dengan kaum hawa dan yang sebaliknya.
(Fath al-Bary XI/521).
Kemudian, kita sudah maklum, ada larangan dari
Nabi saw, bahkan beliau melaknatnya, laki-laki yang tasyabbuh dengan perempuan
dan perempuan yang tasyabbuh dengan laki-laki. Sekarang apakah laki-laki yang
memakai make-up tidak termasuk tasyabbuh dengan wanita yang dilarang?
Dari penjelasan tadi di atas pertanyaan ini bisa
terjawab, apabila bedak atau make-up itu termasuk parfum atau minyak wangi dan dipoleskan di wajah, bagi
laki-laki termasuk tasyabbuh yang hukumnya haram. Sedangkan bagi perempuan
sebaliknya, alias dianjurkan.
Dan apabila polesan bedak atau parfum itu bukan
di wajah, tetapi bedak atau parfum itu menjadi ciri khas kaum hawa, maka tetap
dihukumi haram. Seperti yang dikatakan oleh para ulama, "laki-laki tidak
boleh tasyabbuh dengan kaum hawa dalam segala hal yang menjadi ciri khas atau
tertentu dilakukan oleh kaum hawa". Wallahu a'lam.
Referensi:
*Al-Hafizh al-'Asqalani dalam, Fath al-Bary Syarh
Shahih al-Bukhari
XI/521, Ibn Hajar al-Haitamy dalam, al-Zawajir
'an Iqtiraf al-Kaba'ir,
I/155, Sayid 'Abdurrahman Ba 'Alwy dalam, Bughyah
al-Mustarsyidin hal.; 283.
Nihayatu Al-Muhtaj II/374
بغية المسترشدين ص : 283
)مسئلة ى) ضابط
التشبه المحرم من تشبه الرجال بالنساء وعكسه ما ذكروه فى الفتح والتحفة والامداد وشن
الغارة وتبعه الرملى فى النهاية هو أن يتزيا أحدهما بما يختص بالآخر اويغلب اختصاصه
به فى ذلك المحل الذى هما فيه اهـ
نهاية المحتاج الجزء الثانى ص : 374
أو محمول على ان مراده من جنس زي النساء لا انه زي مخصوص
بهن وقد ضبط ابن دقيق العيد ما يحرم التشبه بهن فيه بأنه ما كان مخصوصا بهن فى جنسه
و هيئته او غالبا فى زيهن وكذا يقال فى عكسه (قوله وكذا يقال فى عكسه) ومنه ما يقع
لنساء العرب من لبس البشوت وحمل السكين على الهيئة المختصة بالرجال فيحرم عليهن ذلك
وعلى هذا فلو اختصت النساء او غلب فيهن زي مخصوص فى اقليم وغلب فى غيره تخصيص الرجال
بذلك الزي كما قيل ان نساء قرى الشام يتزين بزي الرجال الذين يتعاطون الحصاد والزراعة
ويفعلن ذلك فهل يثبت فى كل اقليم ما جرت عادة اهله او ينظر لأكثر البلاد ؟ فيه نظر
والأقرب الأول ثم رأيت فى حج نقلا عن الأسنوى ما يصرح به وعبارته: وما افاده: اى الأسنوى
من ان العبرة فى لباس وزي كل من النوعين حتى يحرم التشبه به فيه يعرف كل ناحية حسن
اهـ وعليه فليس ما جرت به عادة كثير من النساء بمصر الآن من لبس قطعة شاش على رءوسهن
حراما لأنه ليس بتلك الهيئة مختصا بالرجال ولا غالب فيهن فليتنبه له فانه دقيق واما
ما يقع من الباسهن ليلة جلائهن عمامة رجل فينبغى فيه الحرمة لأن هذا الزي مخصوص بالرجال
اهـ
0 comments:
Post a Comment